Rasa Makassar di Sudut Jalan Japati, Bandung

Coto Makassar telah menjadi salah satu makanan favorit saya sejak tahun 2010, saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Kota Anging Mamiri. Rasanya yang kaya rempah serta daging yang empuk, membuat saya langsung jatuh cinta pada suapan pertama.

Awalnya saya mengira kalau kuah Coto yang pekat ini berasal dari santan. Namun ternyata kacang tanah lah yang menjadi bahan utama dari pekatnya warna coto ini. Saat memakannya saya tidak merasakan eneg seperti saat memakan makanan sejenisnya seperti kari maupun gulai. Rasanya gurih dan tidak membuat perut terlalu penuh dan begah layaknya efek yang dihasilkan oleh santan.

Dari semua coto yang pernah saya coba di Makassar, tidak ada yang tidak enak. Yang ada hanya enak banget, atau enak aja, meski coto yang saya beli hanya dari warung sederhana. Biasanya semakin sederhana warungnya, semakin otentik cotonya.

Nah di Bandung, saya tidak menemukan coto yang rasanya mendekati otentik, Mungkin karena coto yang dijual  disesuaikan dengan lidah Jawa (Pulau Jawa). Selain masalah rasa, jumlah penjual coto pun rasanya bisa dihitung jari, maka dari itu susah sekali menemukan penjual coto yang ada di Bandung.

 

Dari beberapa pencarian lewat teknologi maha canggih bernama google, saya mendapati beberapa lokasi penjual coto. Satu di Jalan Riau Bandung yang sudah pernah saya coba, Lalu ada lagi di jalan Dr. Setiabudi Bandung di restoran bertema Sulawesi, satu di Lapangan Persib, katanya ini enak sekali tapi sayang sudah tutup, dan terakhir di Jalan Pasteur, katanya juga ini otentik sekali, tapi sayang sudah tutup karena pembangunan jalan layang Pasupati, saya sudah membuktikannya dengan mengitari pasteur lebih dari lima kali dan tidak ada tanda-tanda ada penjual Coto di situ.

20140212_131705

Coto Japati

20140212_131342

Sepasang Buras tanpa Santan

Akhirnya kemarin saya melakukan pencarian lewat twitter, dengan kata kunci “Coto Makassar Bandung”. Kebanyakan sih membicarakan Coto dan Konro yang ada di Jalan Riau. Lalu ada satu yang cukup menarik, yaitu sebuah warung tenda yang ada di Jalan Japati Bandung, bernama Coto Japati Daeng Ron. Ihiiiy, saya semangat. Semoga kalau yang jual Daeng-daeng rasanya akan enak.

Untuk mencapai warung tenda ini tidak sulit kok. Dari jalan Surapati, kamu hanya perlu belok ke Jalan Japati. Patokannya tentu Monumen Perjuangan, belakang lapang Gasibu. Coto Japati ini ada di belakang telkom dan tepat berada di depan Magister Akuntansi Unpad. Kamu hanya perlu menengok ke sebelah kanan, dan nanti akan menemukan warung tenda dengan spanduk berwarna hijau dan Kuning.

20140212_131105

Saat sampai di sana, Fajar ngobrol sebentar dengan penjualnya yang juga orang Makassar, bagaikan saudara jauh yang bertemu di negeri antah berantah. Percakapannya seputar sudah berapa lama tinggal di Bandung, dan ‘di Makasssar nya tinggal di Mana?’

Setelah itu kami memesan 2 porsi coto, si Daeng ini mewari kami Buras atau kalau orang sunda lebih mengenalnya dengan nama leupeut, beras yang dimasak di dalam daun pisang. Awalnya saya tidak mau buras, dan meminta ketupat, karena umumnya buras dimasak dengan menggunakan santan. Bukannya sok Olla Ramlan, tapi buat saya sih rasanya terlalu bertabrakan, jika coto yang sudah begitu berbumbu harus dipadukan dengan karbohidrat bersantan. Untunglah setelah itu dia bilang kalau burasnya sama saja seperti ketupat, karena tidak menggunakan santan.

Rasa cotonya sendiri enak, kuahnya gurih dan rempah-rempahnya terasa di mulut. Hanya saja perasaan saya ada sensasi jahe yang “terlalu terasa” di dalamnya. Dagingnya juga empuk. Ada daging pipi, hati dan saya lupa yang lainnya karena saya langsung minta campur saja.

Selain menu coto, ada juga Soto Banjar, Ayam Disco, Palumara, Mie Titi atau Mie kering dan untuk es nya ada Es Pisang Ijo dan Es palubutung yang hampir sama dengan es pisang ijo tapi tanpa kulit hijau luarnya itu.

Fajar tergoda untuk memesan es Pisang Ijo, tapi sayangnya setelah kami coba, rasanya sama sekali tidak otentik. Bubur sumsumnya terlalu encer, nyaris tidak terlihat, dan sirup berwarna merahnya pun tidak sesuai harapan saya. Pisangnya keras dan kulitnya terlalu tipis. Dengan harga 10ribu rupiah, Es pisang ijo ini overpriced buat saya.

20140212_133046

Pisang ijo

Tapi apakah saya akan datang lagi ke tempat ini? Tentu saja. Tempatnya cukup bersih dengan standar kebersihan warung tenda. Rasa cotonya juga enak, dan harganya murah. Seporsi Coto dihargai 12.000 rupiah, dan sepasang buras dihargai 3.000 rupiah. Sementara harga Soto Bajar komplit 13.000, Mie Titi 12.000, Ayam Disco + Nasi 13.000 dan Palumara 15.000.

20140212_131135

Daftar Harga

Karena berlokasi di Daerah Mahasiswa, kamu tidak perlu khawatir dengan harganya, karena sudah disesuaikan dengan kantong mahasiswa 😉

Jika kamu pernah mencoba dan mempunyai tanggapan mengenai Coto Japati ini silahkan tulis di kolom komentar ;). Jika kamu punya referensi Coto yang jauuuh lebih enak, plis beri tahu saya 🙂

Advertisements

21 thoughts on “Rasa Makassar di Sudut Jalan Japati, Bandung

  1. RM. Marannu yang di Riau kayaknya yang paling heits ya. bukan pecinta makanan Makassar sih tapi sempet coba yang di RM. Sulawesi Setiabudhi (yang sekarang udah tutup) dan emang bukan lidah Makassar kayaknya jadi nothing special with that food hahaha.

    Tapi sempet liat postingan temen di Path yang nge post foto Sop Konro sama Coto Makassar di salah satu tempat makan di Jakarta (Warung Daeng Tata kalo gasalah) dan itu fotonya bikin ngiler banget dan pengen coba..

    • Ah ya, akupun pernah denger Daeng Tata itu katanya endes banget.. kalau kamu udah nyoba mau dong dibagi… hahahaha..

      Oh ya, kayaknya si RM. Sulawesi itu udah pindah Rams ke Pajajaran. Pas banget di seberang segitiga yang deket Megacell dan SMK 12 itu..

  2. wah baru tahu kalo di Bandung juga ada banyak warung makanan khas Makassar … maklum saya bukan penjaja kuliner, cuma kalo dapat yaa makan kalo gak ya coba yang lain…

  3. mariki di coba coto makassar jln.japati ” isi seporsinya lebih banyak, mau dansa alias daging saja, atau paha janda alias paru hati,jantung daging atau coto pake perasaan alias pake hati saja…tinggal pilih, pisang ijonya seporsi 5 ribu, nambah kuah coto gratis mas bro…100 meter dari kantor telkom jalan japati sebelah kanan kearah monumen. mantap nentong rasana…

  4. Pertama datang kebandung bingung nyari makanan khas makassar ( kebetulan org makassar ) keliling” bandung alhamdulillah aku dapatkan..gk kalah endess deh sama kuliner bandung..yaitu mie kering atau sebutan lainnya mie tik tik,.cobain deh..rasanya sama dengan mie anto makassar..kl dibamdung letaknya dijl.emong burangrang..belaiang bakso malang enggal..nama kios nya mie be u…dijamin maknyosss deh

  5. Hi Mbak, apabila masih mencari citarasa makassar, boleh dicoba “kedai kuliner gudeg banda” di daerah taman cibeunying-ciliwung. Di situ, juga jualan coto makassar dan konro 🙂

  6. Saya tau rasa coto makassar yg enak di sekitaran bandung.. Tepatnya di cimahi sih
    Dekat cimall
    Klau menurut saya sebagai orang sulawesi sih enak bangeeet T-T *laper Tiba2*

  7. so i’m googling coto makassar in bandung and this is what i found…. karena saya dari kalimantan jadi deket dengan makanan sulawesi dan been dying to eat coto makassar di bandung. jadi untuk coto makassar ini boleh saya tau bukanya jam berapa sampe jam berapa? and since this post is super old, kira2 masih buka ga ya warungnya? terimakasih

  8. sekarang sudah pindah lokasi , naik terus sampai ke ujung jln japati , jualannya malam mulai jam 4 sore sampai jam 12 malam, dijejeran angkringan depan pintu monumen jln japati, dengan spanduk Ayam Kampus, bebek rempah ireng, coto, es pisang ijo,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s